1.1.17

Resolusi 2017



Setelah berdarah-darah menulis Refleksi 2016 (yang ditulis memang yang bagus-bagusnya saja, karena yang nggak bagusnya mengendap di ingatan dalam bentuk kenangan buruk, wkwkw), saya hadir dengan Resolusi 2017. Eh, kenapa resolusinya dikasih huruf miring? Karena, menurut KBBI, resolusi artinya adalah... *jeng-jeng*




Bodo amat lah ya, yang penting kita sama-sama tahu kalau yang dimaksud di sini adalah semacam harapan atau keinginan atau target pencapaian di tahun ini 😁 Jadi, apa saja resolusi saya? Simak ya, dan jangan lupa di-amin-kan 🙏


Pertama, saya berharap tahun ini saya mendapatkan kembali kedekatan kepada Allah yang rasanya semakin menjauh. Iya tahu, saya yang menjauh. Makanya, saya akan kembali pada kondisi keimanan dan ketakwaan saya seperti dulu lagi. Ini sebuah doa yang nggak muluk tapi susaaaaaaaah sekali dicapainya 😭

Kedua, saya mau *dirahasiakan* 

Ketiga, saya punya target menyelesaikan lima judul novel tahun ini. Semoga segera menemukan ritme menulis dan terus produktif. Kalau tahun kemarin serius di genre teenlit, saya mau coba yang lebih dewasa lagi (serius, nulis teenlit itu lebih rumit dari pada nulis genre young adult atau adult). Jadi, seharusnya lebih mudah, kan? Aamiin.

Keempat, saya mau lebih produktif lagi nulis di blog, baik blog ini maupun blog buku. Kalau bisa, dua-duanya dipindahkan domainnya ke yang berbayar. Biar lebih semangat lagi nulisnya. Target nulis (kalau digabung dari dua blog) semoga sampai 150 tulisan.

Kelima, saya ingin menaikkan target baca, kalau tahun lalu 60 buku (dan berhasil 100 buku), tahun ini semoga tembus 120 buku.

Keenam, saya mau kurang-kurangi beli buku cetak. Ampuuuuuun, tahun 2016 banyak sekali buku yang saya beli. OMG! Jadi, target tahun ini yang buat beli buku cetak, semoga bisa teralokasikan untuk beli rak buku baru.

Ketujuh, semoga bisa sering silaturahmi sama teman-teman lama. Dan menjalin pertemanan kembali dengan teman-teman yang sempat terputus. Serius, beban mental saya banget setelah gagal anu untuk bisa kembali menjalin silaturahmi dengan teman-teman lama ini. Mental saya terlalu sering break down, apalagi kalau disudutkan atau disalahkan atas kegagalan saya di masa lalu itu. (Padahal saya yakin mereka nggak bakal begitu.) Semoga di tahun ini saya lebih berani! Hahaha.

Kedelapan, saya ingin traveling lagi. Semoga ini juga kesampaian.

Kesembilan, saya berharap bisa mengubah pandangan tentang jodoh, menikah, dll, dsb itu. Sebenarnya sih menghapus resolusi menikah. Namun, bukan itu intinya. Pokoknya, saya mau menjalani hidup tanpa beban, tanpa harus dipaksa mencari jodoh atau kecewa karena tahun ini masih sendiri (lagi). Fokus di karir baru saja, berkarya, dan menjalani hidup dengan indah. Kalau toh memang takdirnya ketemu jodoh tahun ini (atau bahkan sampai menikah), tidak ada jalan lain selain mensyukurinya sebagai sebuah anugerah dan jalan menuju tantangan hidup baru lainnya.


Menuliskan ini benar-benar membutuhkan keberanian bagi saya. Karena, saya yang tertutup tidak mudah begitu saja menggelar mimpi seterbuka ini. Namun, lagi-lagi, harapan saya dengan menuliskannya, akan banyak doa mengalir untuknya. Dan lagi, menulis adalah pekerjaan mengabadikan kehidupan. Anak saya kelak harus membaca tulisan ini. Dan ketika membacanya, saya harap dia tahu bahwa ibunya dulu pernah berjuang untuk keluar dari permasalahan hidupnya, dan berupaya untuk mengukirkan cerita baru dalam lembaran cerita berikutnya.

Akhir kata, selamat menjalani resolusi tahun baru. Semoga di tahun depan, semua yang diharapkan dan diinginkan menjadi kenyataan. Empat hari lagi saya ulang tahun, sudah siapkan hadiah, belum? #pesansponsor


______

Source pict, edited by me

Refleksi 2016



Selamat siang teman-teman.

Gegap gempita perayaan pergantian tahun sudah menghilang, menyusul awal baru kehidupan di tahun yang baru. Sebenarnya, saya bukanlah termasuk yang merayakan pergantian tahun dengan spesial. Hanya saja, memang sih, orang-orang di rumah dan keluarga besar pada suka kumpul dan bakar-bakar di malam pergantian tahun. Alih-alih menganggap ini sebagai perayaan yang nggak sesuai dengan ajaran agama, saya mencoba menikmatinya dari perspektif lain: ajang kumpul dan silaturahmi dengan sanak saudara. Lagi pula, yang dibakar ayam sama lele kok, bukan mercon apalagi kembang api 😁. (Eh, ada yang beli kembang api sih, maklum bocah-bocah suka heboh lihat tetangga, tapi bukan pakai duit saya, hahaha, eman-eman kalau duit sendiri dibakar-bakar begitu.)

Di lembaran awal tahun 2017 ini, saya mau menuliskan beberapa hal yang menjadi refleksi. Kenapa pakai tanggal Masehi untuk dijadikan patokan? Sederhana saja, karena tanggal dan momen ini mudah diingat, dan juga menjadi patokan banyak orang. Jadi, nggak ada salahnya, kan? *kedip-kedip*

Saya memulai tahun 2016 dengan terseok-seok. Banyak hal yang nggak sesuai dengan harapan. Pun begitu juga dengan bulan-bulan saat menjalaninya. Namun, mari kita fokus pada hal-hal yang baik. Tahun ini, banyak target saya yang terpenuhi. Misalnya saja, target baca buku dan mengisi blog (akan dibahas di blog buku saya spesial setelah ini, hehehe.) Lalu, target mengurangi bermain di role player fiction New Indohogwarts tercapat setelah berkali-kali didera kekecewaan karena terlalu banyak bergantung pada manusia, hahahaha (ups, katanya mau fokus pada hal-hal baik?) Nah, kabar baiknya adalah, saya mulai berpindah lapak menulis, dari nulis di forum RPF, jadi menulis yang lebih serius. 2016 adalah awal mula saya memberanikan diri untuk menulis novel.

Tercatat, tahun ini saya berhasil membuat dua buah novel (dengan terseok-seok karena masih berusaha menemukan ritmenya). Salah satunya, akan segera terbit di penerbit mayor, hehehe. Ini salah satu pencapaian saya yang paling membahagiakan tahun ini. Seperti mendapatkan mata air di padang pasir yang gersang! Salah satunya lagi, sudah dikirim ke penerbit dan menunggu hasilnya apakah diterima atau tidak. Saya juga membuat dua bakal cerita (sebenarnya tiga, tapi yang satu nanti akan diceritakan dalam bagiannya sendiri), yang satu sedang berjalan 40% dan satunya masih mandeg. Terhalang karena saya diajak menulis untuk sebuah proyek menulis bareng teman-teman RPF. Yah, kehidupan menulis saya di NIH memang sedang berada dalam kondisi terburuk, tapi menjaga tali pertemanan di sana memberikan berkah tersendiri. Dan akhirnya, saya lagi menyeriusi bakal cerita ketiga ini. Doakan semoga berhasil dan mendapatkan jalannya ya! 😊

Saya juga mulai mengisi blog pribadi ini, meskipun masih kalah banyak isinya dengan blog buku saya. Beberapa kali membuat cerpen lagi setelah sekian lama nggak menulis lagi. Semoga, tahun ini lebih sering buat cerpen ya. Dan semoga ada jalan untuk menerbitkan kumpulan cerpen, aamiin. Doa dulu pokoknya.

Hal-hal lain yang terjadi selama tahun 2016, salah satunya adalah melakukan perjalanan sama teman kantor saya ("rekan kerja" kata seseorang, tapi mereka adalah teman dekat saya, hahaha.) Seru banget perjalanan ke Banjarmasin itu. Benar-benar perjalanan yang nggak terlupakan, karena kita berpetualang ke tempat-tempat baru yang menyenangkan. Pertengahan bulan Desember kemarin juga saya melakukan perjalanan dengan teman-teman peserta lomba tulis kotamu, untuk melihat sisi lain kota Samarinda yang jarang terkespose media. Laporan perjalanannya ada di sini (dan dapat juara dua! Hehehe, lumayan, hadiahnya bisa buat jajan awal tahun). Sebagai seseorang yang jarang jalan, perjalanan semacam ini benar-benar memberikan kesan bagi saya. Semoga saya bisa meluangkan waktu tahun 2017 ini untuk bisa jalan-jalan. Semoga pula dibukakan pintu rezekinya agar nggak terkendala dengan masalah keuangan ya, aamiin.

Di Pulau Kembang, Kalsel. Bareng "rekan kerja" wkwk


Oh ya, tahun ini saya nonton Sheila on Seven lagi! Wkwkwkwk. Senangnya. Meskipun, tidak se-excited waktu pertama kali nonton di tahun 2005. Hey, tapi ini So7 lho! Kalau konser di Samarinda lagi pasti saya akan nonton dan ikut jejingkrakan!

Konser So7 tanggal 9 Oktober 2016


Satu hal yang saya rasakan di tahun ini adalah selain karena saya semakin sering jajan buku, saya juga jadi sering nonton bioskop. Terima kasih kepada Dina, teman nonton bioskop saya, yang juga teman dekat saya dari SMP, yang sudah mengajak saya nonton tahun ini. Mengingat saya orangnya nggak suka menonton bioskop, pengalaman ini juga memberi warna yang menyenangkan di tahun ini. Kalau nggak mager, saya mau buat ulasannya juga deh nanti.

Bareng Dina, lupa nonton apa saking seringnya :D


Tentang hal-hal yang nggak sesuai harapan, sebenarnya banyak. Banyak sekali. Bisa dibilang tahun ini menjadi tahun terburuk dalam kehidupan saya. Dari segi keimanan, tahun ini saya berada dalam titik yang mengkhawatirkan. Saya menyadarinya, tapi masih tidak melakukan apa-apa untuk membenahinya. (Tuh, mengkhawatirkan, kan?) Namun, dengan kesadaran itu, dan upaya untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dari sebelumnya, di tahun 2017 saya akan berusaha keluar dari kemelut hidup yang membahayakan ini.

Namun, di balik segala sesuatu yang terjadi, tentu akan menyimpan banyak hikmah yang terkandung di dalamnya kan? Saya percaya, bahwa apa yang terjadi saat ini, akan menjadi pelecut untuk kebaikan demi kebaikan di masa yang akan datang. Semoga tahun 2017 menjadi tahun yang menyenangkan. Semoga 2017 nggak ada yang memaksa-maksa saya untuk menikah. Semoga 2017 saya ketemu jodoh. Kalaupun belum, yang itu tuh bisa kok dijadikan jodoh saya ya Allah, aamiin. Hahahaha. *siapa*

Akhir kata, selamat tanggal satu! Empat hari lagi saya ulang tahun, sudah siapkan hadiah, belum?



____
Source pict, edited by me


19.12.16

Cerita Samarinda dan Tambang---sebuah perenungan dan reportase perjalanan




Apa yang terlintas di benak kalian tentang Samarinda?

Jawabannya pasti beragam. Sebuah kota di Kalimantan. Atau, kota yang dialiri oleh Sungai Mahakam. Bisa juga sarung Samarinda karena Samarinda juga merupakan kota yang terkenal dengan sarungnya. Kalau saya, ketika mendengar kata "Samarinda", saya akan langsung teringat dengan sebuah lagu yang sering saya dengar sedari kecil:

Samarinda tepian Mahakam
Tersohor di sluruh Kalimantan
Kota Perniagaan sejak dulu kala
Kebanggaan bangsa Indonesia

Saya lahir dan besar di kota ini, dari kedua orangtua perantauan. Eits, jangan salah, orangtua saya pun ketemu jodohnya di kota ini juga. Bisa dibilang, saya memang terikat secara historis romantis di kota Samarinda. Namun, setelah hampir dua puluh tujuh tahun mendiami Samarinda, apakah saya sudah bisa mengenalnya dengan baik?

Sayang sekali, untuk pertanyaan itu jawaban saya adalah belum. Ya, saya belum mengenal kota ini dengan baik. Hanya sekadar tahu bahwa Samarinda adalah ibukota provinsi Kalimantan Timur, terkenal akan amplang dan sarungnya, dan yang dibelah oleh Sungai Mahakam. Yah, sebuah pengetahuan yang berbekal googling pun semua orang juga tahu. 

Beberapa hari yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti sebuah tur (katakanlah begitu) atau lebih tepatnya studi lapangan yang bertajuk "mengenal lebih dekat kota Samarinda". Ehem, ini sebenarnya saya saja yang memberikan judul demikian. Dalam benak saya, barangkali kita akan mendapatkan informasi seputar tempat-tempat menarik di kota ini. Namun ternyata, kita memang mengunjungi lokasi yang benar-benar menarik, dalam tanda kutip. Sebuah perjalanan yang menguji pengetahuan serta pemahaman saya tentang kota tercinta. Pada akhirnya, kata-kata "tercinta" yang saya sematkan pada kota Samarinda, harus membutuhkan pembuktian. Sejauh mana pengetahuan saya tentang Samarinda? Seberapa cinta saya dengan kota ini? Sumbangsih apa yang bisa saya lakukan untuknya?


Samarinda dikepung tambang, benarkah?

Pernahkah kalian mendengar tentang Kalimantan Timur sebuah provinsi yang kaya? Tentu saja pernah dengar dong. Provinsi tempat saya tinggal ini termasuk provinsi terkaya di Indonesia. Samarinda, sebagai ibukotanya, pun juga termasuk yang menyumbangkan kekayaan itu meskipun masih kalah dengan kota-kota lain yang memang terkenal dengan hasil buminya. Nah, kita sudah semakin dekat dengan isu yang akan saya bahas di sini.

Samarinda merupakan kota dengan potensi pertambangan yang luar biasa. Menurut portal kota Samarinda (bisa diakses informasinya di sini), potensi pertambangan kota ini besar sekali. Jumlah produksi batu bara pada tahun 2004 sebesar 2.148.094.062 ton, tahun 2005 sebesar 5.774.304 ton, dan tahun 2006 sebesar 4.030.000 ton. Bayangkan saja, itu di tahun 2004 dan 2005. Tentu, semakin lama produksi ini terus berkurang karena produksi ini terus dilakukan sementara jumlah sumber daya pertambangan memiliki batas. Dan, di kota Samarinda, terdapat tiga puluh satu pemilik kuasa pertambangan untuk mengeksploitasi sumber daya berupa batu bara yang tersebar di enam kecamatan. Dan ini yang mencengangkan, peta wilayah kuasa pertambangan batu bara di Samarinda!

Diambil dari situs mongabay.co.id

Ini benar-benar berita baru yang mencengangkan bagi saya. Terlebih lagi ternyata, mengetahui bahwa 71 persen wilayah Samarinda kini dikavling oleh tambang.

"Ada 71 persen luas Kota Samarinda kini dikavling tambang sehingga tambang berada di kawasan permukiman warga. Begitu juga lubang-lubang menganga, beracun, dan ditinggalkan begitu saja. Semua itu Menteri harus tahu."  Merah Johansyah, pada Kompas.com Maret 2015

Informasi di atas juga saya dapatkan dari Mareta Sari, teman perjalanan yang menemani dan memandu kami untuk menguak sisi lain kota Samarinda yang jarang diketahui. 

Pada Kamis, 15 Desember 2016, dengan menggunakan mobil, kami (saya dan teman-teman yang mengikuti lomba menulis #TulisCeritaKotamu) menyusuri beberapa titik di kota ini. Ini bukan perjalanan biasa, atau mengunjungi tempat-tempat menarik yang ada di Samarinda. Melainkan, mengunjungi tempat-tempat yang mendapatkan dampak secara langsung dari kondisi pertambangan batu bara di Samarinda.

Kami mengunjungi Makroman, lokasi di mana ditetapkan sebagai daerah percontohan pertanian di kota Samarinda. Namun, miris sekali mendengar cerita dari warga di sini, bahwa ternyata, lokasi ini tidak luput dari sentuhan pengeboran tambang. Bapak Baharudin adalah salah satu petani yang dengan kukuh mempertahankan tempat ini agar tidak menjadi korban perluasan tambang yang sudah terjadi di sini.

Menurut Pak Baharudin yang juga ketua KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Kecamatan Samarinda Ilir, sejak perusahaan masuk ke area ini untuk melakukan penggalian batu bara pada tahun 2008, kondisi petani di sini mengalami perubahan drastis. Mulanya, hasil pertanian yang melimpah mengalami penyusutan. Ini terjadi karena proses pertambangan merusak sumber air di tempat ini. Bagaimana mungkin bisa menanam padi dengan baik jika sumber airnya sudah tercemar?

Tidak hanya bermasalah dalam sektor pertanian (penanaman padi) saja, tapi sejak adanya kegiatan pertambangan di tempat ini, tambak pun tidak lagi menghasilkan.

"Ikan-ikannya tidak lagi bisa tumbuh dengan normal. Air tambak jadi terlalu asam," kata Pak Baharudin.

Ikan yang ditangkap warga di danau bekas tambang

Akibatnya, hasil perikanan pun terganggu. Menurut penuturan Pak Baharudin pula, dari pihak CV Arjuna (selaku perusahaan yang melakukan pertambangan di daerah ini) tidak memberikan solusi dari keadaan ini. Hasil ganti rugi pun tidak sesuai dengan nominal kerugian yang dirasakan oleh petani. Tidak ada upaya yang diberikan, dan lubang hasil tambang pun dibiarkan menganga.


Lokasi Lubang Tambang di Makroman


Penuturan serupa juga diberikan oleh Pak Komari (70 tahun), yang tempat tinggal dan sawahnya tidak jauh dari kediaman Pak Baharudin. Menurut cerita Pak Komari, sekarang di sini susah mendapatkan air bersih. Kalau dulu sumur dapat dengan mudah dibuat, sekarang tidak lagi. Tentu ini menyulitkan sebagai seorang petani. Hasil pertanian yang dulu menghasilkan pun, semakin berkurang sebagai dampak adanya izin mengelola hasil tambang di daerah ini.

Yang membuat sedih adalah, di Makroman, semakin banyak lubang-lubang menganga yang dibiarkan begitu saja. Dan lokasi ini begitu dekat dengan area pertanian warga, bayangkan! Lebih miris lagi adalah, danau-danau buatan itu dijadikan warga sebagai tempat memancing. Tidakkah mereka tahu bahwa lubang hasil tambang memiliki kandungan zat kimia yang berbahaya? Memang di sana masih terdapat ikan yang bisa bertahan hidup, tapi ikan itu kecil-kecil bentuknya dan tidak dapat berkembang biak dengan sempurna. Sungguh menyedihkan sekali.

Kami meneruskan perjalanan menuju ke kediaman Bu Rahmawati. Bu Rahmawati adalah seorang ibu yang anaknya menjadi korban meninggal akibat lubang tambang yang dibiarkan begitu saja. Lokasi kediaman Bu Rahmawati di daerah Sempaja. Anaknya yang bernama Raihan meninggal dunia pada tahun 2014, saat sedang bermain dengan temannya di dekat lokasi bekas penambangan batu bara yang dilakukan oleh PT Graha Benua Etam (GBE). Jika dampak akibat dari penambangan batu bara di daerah Makroman lebih kepada hasil pertanian warga sekitar, di tempat ini karena dekat dengan permukiman warga, dampak yang benar-benar nyata adalah meninggalnya seorang anak akibat tenggelam di lubang bekas galian yang dibiarkan begitu saja setelah digali.

Menurut penuturan Bu Rahma, pihak GBE dan pemerintah memang memberikan santunan bela sungkawa terhadap keluarganya. Namun, apakah itu saja cukup? Bagaimana pertanggungjawaban lainnya yang seharusnya diberikan agar kejadian ini tidak berulang lagi? Miris sekali. Kejadian serupa ini sudah sangat sering terjadi di Samarinda. Betapa seperti habis manis sepah di buang, tidak ada upaya yang dilakukan pihak perusahaan untuk bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan yang mereka lakukan.


Bagaimana sikap kita terhadap kondisi ini? Harus tutup matakah atau...

Sebuah perjalanan yang singkat namun sarat makna yang sudah kami lakukan, memberikan banyak sekali pelajaran bagi saya. Tentang bagaimana seharusnya kita sebagai warga yang mengaku mencintai kotanya menanggapi masalah ini. Tentang apa yang selayaknya kita lakukan untuk menjaga Ibu Bumi dari kerusakan tangan-tangan yang hanya memikirkan keuntungannya semata tanpa memperhatikan dampak jangka panjang untuk anak cucu di kemudian hari.

Saya jadi banyak merenungkan sebuah makna perjalanan singkat ini. Betapa sebenarnya manusia adalah makhluk yang seharusnya ditugaskan untuk menjaga bumi, menjadi pemimpin yang sebaik-baiknya dalam mengelola bumi. Namun, begitu banyak kerusakan yang terjadi sekarang, disebabkan oleh tangan-tangan manusia itu sendiri.

Saya jadi teringat dengan sebuah novel yang berjudul Dunia Anna karangan Jostein Gaarder. Di sana terdapat kutipan yang menyindir dengan halus tentang kondisi bumi kita saat ini.

"Sebagai primata yang suka bermain-main, inventif, dan berlebihan, kita mudah sekali lupa bahwa pada dasarnya kita adalah bagian dari alam. Namun, apakah kita begitu sukanya bermain-main dan menghamburkan sesuatu hingga permainan itu lebih didahulukan ketimbang tanggung jawab kita atas masa depan planet ini?" Dunia Anna

Berkenalan dengan teman-teman dari JATAM (Jaringan Advokasi Tambang) Kaltim, membuka mata saya, bahwa ternyata, masih banyak orang-orang yang peduli dengan tanah yang kita pijak ini. Masih ada yang peduli dan cinta dengan kota kita. Lantas, bagi kita sendiri, apa yang bisa kita perbuat untuk kota Samarinda?

Sebagai seorang penulis blog, saya kemudian disadarkan untuk melakukan sesuatu sebagai bukti cinta saya terhadap kota ini. Dengan menuliskannya. Menulis membuat sebuah kisah abadi. Menulis membuat cerita terikat. Dan dengan sebuah tulisan sederhana ini, saya berharap agar bisa menyadarkan banyak orang, tentang cerita kota saya yang ternyata, banyak lubang menganga tanpa disadari oleh banyak pihak.

Saya harap, kota Tepian Mahakam ini dapat terus aman dan makmur, menjadi ibukota yang ramah lingkungan. Dikenal dan dibanggakan bangsa Indonesia karena potensinya, bukan cerita kelamnya tentang perusakan lingkungan yang ada di sana.




13.12.16

Sungkawa Naya




"Usianya berapa, Nduk?" tanya Ibu itu. Tangan kirinya memegang kipas, entah apa faedahnya karena kamar ini sudah dingin dengan AC yang menggempur permukaan wajah dan telapak tanganku.

“Dua puluh tujuh, Bu,” jawabku sambil mengulaskan senyum.

“Sudah menikah?” tanyanya lagi.

Tanganku yang sedari tadi sibuk bekerja tiba-tiba berhenti tanpa kukomandoi. Aku kembali tersenyum, meskipun wajahku kini pias. Jika Ibu itu melontarkan pertanyaan yang sama lima bulan lalu, aku dengan bangga akan menyambar pertanyaan itu dengan sebuah jawaban yang meyakinkan, “Tiga bulan lagi, Bu,” disertai dengan sedikit sanjungan bahwa calon suamiku adalah seorang dokter, sahabatku sendiri yang kukenal selama tiga belas tahun. Mengingat perjuanganku mendapatkan kejelasan hubungan dengan Hilmy, rasanya sesekali perlu membanggakan dirinya di hadapan orang yang tak kukenal.

Tapi itu dulu.

Lima bulan yang lalu.

“Belum, Bu.” Dan ini adalah jawaban disertai senyum artifisial yang bisa kuberikan atas pertanyaan yang terlontar seputar statusku. Sekarang.

Aku kembali menekuri jemari kanan sang Ibu, sementara rupanya klienku yang satu ini terlalu bersemangat untuk berbicara sedari tadi—dalam hal ini, kalimat barusan dapat diartikan sebagai: terlalu ingin tahu segala hal yang bukan urusannya.

“Lho kok belum? Kan Mbaknya cantik,” respon sang Ibu.

“Belum jodohnya, Bu,” jawabku diplomatis, sembari mengukir jemari kelingkingnya.

“Pasti pilih-pilih ya?”

Aku tergelak. Untung sadar bahwa gelakanku yang pertama terlalu menguarkan aroma sarkasme, buru-buru kususul dengan tawa renyah untuk menetralisirnya. Pertanyaan yang sama bukan satu dua kali mampir di telinga. Semudah itu orang-orang di luar sana memberikan penghakiman.

“Hehe, enggak, Bu. Maunya sih segera ketemu sama yang cocok. Tapi begitu ketemu, eh, jalannya susah.... Bu tolong jarinya jangan gerak-gerak dulu nanti bunganya berantakan.”

“Aduh, hehehe, ya jangan sampai berantakan dong.”

Aku kembali tersenyum. Sungguh lebih baik dikomentari seputar pekerjaanku yang tidak memuaskan ketimbang diinterogasi seputar jodoh.

sumber


“Sudah berapa lama kerja sama Jeng Arafah?” si Ibu kembali membuka obrolan.

“Satu setengah tahun, Bu. Tante Arafah itu tante saya, bisa dibilang saya bantu-bantu saja.” Sambil berbicara, aku berpuas diri dengan hasil pekerjaanku di atas kelingking kanan sang Ibu. Henna berwarna merah tua mengukir dengan cantik di sana, dengan bunga pada ruas pertama dan ukiran daun-daun memanjang hingga kuku. Aku beralih ke jari manisnya.

Dalam hati aku berspekulasi, kira-kira dalam pengerjaan sepuluh jari ini, berapa kalimat interogasi lagi yang harus aku jawab? Apa mungkin bahkan sampai mengorek seluruh cerita percintaanku yang kandas dengan Hilmy? Atau barangkali Ibu yang tidak kutahu namanya itu sampai tahu bahwa rencana pernikahanku harus kandas karena terganjal restu orangtua, karena nama belakangku tak bermarga?

Aku tertawa dalam hati. Menertawai nasib malangku dan kesialan hari ini karena mendapatkan klien menyebalkan seperti ini.

“Wah, sudah sering menghias tangan pengantin dong? Kapan menghias tangan sendiri?” ucapnya. Tawa sang Ibu melengking, kipas yang di tangan kirinya menutupi mulutnya dengan gerakan yang dibuat-buat.

 “Kalau saya menikah nanti ya bukan saya yang membuat henna-nya Bu. Masa’ calon pengantin mengerjakan semuanya sendiri, hehehe.”

“Betul juga ya, hihihi. Pintar kamu.”

Aku kembali konsentrasi dengan pekerjaanku. Dan untungnya, sesekali sang Ibu memuji di sela-sela obrolan lain yang terjalin di antara kami. Pada jari keempat, ia mulai membicarakan calon menantunya.

Sebenarnya aku bisa mengerjakan pekerjaanku dengan sangat cepat dan memuaskan andai saja Ibu itu diam dan tidak mengganggu konsentrasiku dengan pertanyaan-pertanyaan konyolnya serta cerita seputar calon menantu idamannya itu. Aku tak henti membayangkan sosok Hilmy di balik cerita itu. Entahlah. Sejak berakhirnya hubungan kami, dan semakin banyaknya tangan pengantin perempuan yang harus kuhias untuk hari bahagia mereka, selalu saja tebersit dalam benak bahwa aku sedang menghias tangan yang akan menyentuh kepalanya, dan mengusap peluhnya, serta yang akan diciumnya sepanjang hari. Otakku memang nyaris tidak waras. Bahkan sudah lima bulan berselang, masih tidak bisa kuikhlaskan begitu saja perpisahanku dengan Hilmy yang sudah terjadi.

Padahal kemungkinan itu kecil. Tante Arafah selalu tidak melibatkanku dalam penyelenggaraan pernikahan adat yang sama dengan suku Hilmy. Kecuali, jika akhirnya keluarga besar Hilmy mau menerima orang asing di luar suku mereka, yang rasanya mustahil.

Malangnya, Ibu ini sudah memercikkan luka lamaku bahkan sejak titik pertama racikan henna-ku menyentuh jemarinya.

“Alia harus ikut suaminya ke luar negeri setelah mereka menikah nanti...” sambungnya, entah dari kalimat yang mana yang tadi dilontarkannya. Oh ya, menceritakan calon mantu yang mau melanjutkan pendidikan di entah bagian mananya dataran Eropa. Siapa peduli?

“Wah, bisa sekalian bulan madu dong, Bu,” ucapku dengan enggan.

“Iya... apalah Nduk, Ibu sudah tua. Apa lagi yang bisa ditunggu selain kehadiran cucu segera?” jawab si Ibu disertai tawa yang ganjil. “Ibumu juga pasti berpikir begitu, tho? Makanya, cepat-cepat.”

Oh astaga. Ingatkan aku tugasku setelah menangani tangan ini adalah menghias henna sang calon pengantin perempuan. Harus berapa lama lagi telingaku akan mendengar kalimat serupa ini?!

Dan begitu kipas di tangan kiri diletakkan karena tangan itu menjadi giliran dihias, seketika itu aku mematikan indra perasa. Terserah saja Ibu itu mau memuji-muji Adi-something atau entah siapa nama calon mantunya tersayang itu. Atau terus-terusan menyindir status lajangku.

Lima belas menit kemudian penderitaanku tahap pertama selesai.

Fiuh. Aku bernapas lega sejenak, membereskan peralatan tempurku yang berserakan lalu menyeruput teh yang tidak lagi hangat itu sementara si Ibu berteriak kepada orang di luar kamarnya untuk memanggilkan sang calon pengantin wanita.

Seorang wanita muda berparas ayu dituntun untuk mendekat kepadaku yang sudah stand by di kursi. Wajahnya pucat, meskipun itu tidak mengurangi kesan cantik padanya. Mungkin kelelahan menyiapkan pernikahan, gumamku, mencoba berprasangka baik.

“Alia ya?” aku menyapa dengan senyum tulus. Kurasa, wanita muda ini berkebalikan dengan ibunya. Kuharap demikian, karena aku tidak akan sanggup mendengarkan yang serupa seperti tiga puluh menit sebelum ini yang rasanya seperti puluhan jam.

Ia mengangguk dan membalas sapaanku dengan senyum.

“Pakai model yang sudah disepakati di gambar yang sudah saya kirim di WhatsApp kemarin, kan?”

Lagi-lagi ia mengangguk.

“Oke, mungkin pengerjaannya agak lama.”

“Asal ndak sampai magrib aja ya Nduk, soalnya nanti malam ada acara. Ndak tahu itu yang minta dari pihak laki-laki. Kitanya siap-siap saja. Alia juga musti dirias lho. Jadi calon manten harus cantik, betul kan?” Ibunya menyela, dan berbicara panjang lebar, seperti biasa.

Aku mengangguk-angguk. Mungkin akan berlangsung Malam Pacar, Malam Bainai, atau Mapacci, atau apalah sebutannya sesuai dari suku mana berasal. Namun inti sarinya sama.

“Enggak Bu,” aku tersenyum, “enggak sampai satu jam.” Aku menoleh ke arah jam dinding di satu sudut kamar yang menunjukkan masih pukul satu siang.

“Iya...” jawab si calon pengantin dengan lirih. “Dimulai saj—”

Bahkan belum selesai kata itu diucapkan, wanita muda itu melonjak dari kursi di depanku dan menuju ke arah pintu lain di kamar ini, menuju ke kamar mandi. Kudengar suara keran beradu dengan suara muntahan dari tempatku duduk.

“Aduh permisi dulu ya Nduk, Ibu harus mengurus makanan dulu sama orang catering,” ucap Ibu itu sembari keluar kamar. Melarikan diri. Mungkin malu dengan kondisi anaknya setelah bualannya tadi.

Aaah, aku mengerti. Lantas aku beranjak dari tempat dudukku dan menyusul si wanita muda yang terlihat kepayahan. Mau tidak mau pandanganku melirik ke arah perutnya yang tidak rata. Belum membesar memang, tapi cukup kentara. Pekerjaan menjadi asisten perias pengantin dan perias henna membuatku tidak satu atau dua kali menemukan kondisi seperti ini. Jadi tenang saja Alia, aku sudah terlatih.

“Berbaring saja kalau kelelahan, saya masih bisa menghias tangannya kok,” jawabku dengan tenang.

Dan begitu berbaring, wanita muda itu menjulurkan tangannya yang langsung kusambar untuk dihiasi dengan henna. Tak lama sesudahnya ia menangis. Aku jadi bingung sendiri. Entah mana yang lebih baik sekarang, mendengarkan bualan ibunya yang ternyata... (aku tak sanggup melanjutkan kalimat ini), atau mendengar tangisan si calon pengantin yang menyayat hati seperti ini.

Ah sudahlah, seharusnya aku tidak peduli. Aku sudah pernah mengalami kehilangan yang benar-benar menghancurkan kehidupanku. Seharusnya, aku hanya perlu bersikap profesional sekarang, bekerja sesuai dengan pekerjaanku. Meskipun itu dalam bentuk mengabaikan tangisan pilu seorang calon pengantin. Sebuah posisi yang sejak bertahun-tahun lalu kuidamkan. Dan belum tercapai hingga sekarang.

Apakah semua pernikahan harus diawali dengan sebuah kesempurnaan? Pikiranku berkelana sementara jemari terlatihku membubuhkan gambar di atas tangan klienku. Apakah sebuah pernikahan yang tidak sempurna bisa menjamin sebuah kebahagiaan? Jika tidak ada restu dari satu belah pihak keluarga, tidak bisakah pernikahan itu tetap terlaksana seperti cacat kecil yang tengah dialami wanita di hadapanku ini?

Tidak, Naya. Statusmu dan wanita itu berbeda. Kamu dan Hilmy tidak dapat melanjutkan pernikahan karena orangtua dan keluarga besar lelaki itu tidak menerimamu. Kamu tidak berasal dari golongan yang sama dengan mereka. Sementara wanita ini, mungkin terpaksa menikah karena telanjur berbadan dua.

“Kalau mual lagi, kasih tahu saja ya. Supaya saya bisa bantu ke kamar mandi dan pastikan henna-nya enggak rusak.”

Ia mengangguk. Dengan satu tangan ia menghapus air matanya yang meluber entah ke mana. Mau tidak mau aku jadi merasa kasihan. Meskipun aku tidak mengetahui di mana letak perlunya aku menghabiskan rasa kasihanku pada wanita itu.

“Menangis saja, saya pura-pura enggak lihat,” kataku, tanpa mengalihkan pandangan dari gambar bunga yang tengah kuukir di jemari kanannya. “Tapi, kalau tangan yang satunya sudah di-henna juga, jangan menangis lagi. Masa' saya yang menghapus air matanya nanti, hehe.”

Seketika wanita itu ikut tertawa bersamaku.

Sorry,” katanya.

It’s okay.

“Saya... jadi kehilangan konsep pernikahan impian gara-gara...” Ia kehabisan kata-kata.

Aku mengangguk-angguk mencoba bersimpati. Aku pun pernah kehilangan konsep pernikahan impian gara-gara kehadiranku yang tidak direstui.

“Tidak ada yang perlu disesali,” ucapku berusaha bijak. “Semua sudah terjadi. Hidup harus terus berjalan ke depan. Banyak hal yang baik menanti di sana.”

Tak lama wanita itu bisa duduk kembali, dan aku menyelesaikan satu tangan lainnya. Sepertinya ia menepati janji untuk tidak menyusahkanku dengan menghentikan tangisnya. Aku jadi bisa mengerjakan sisa pekerjaan dengan segera. Sesungguhnya ini hari yang berat bagiku. Tidak, bukan karena bertemu dengan Ibu cerewet yang tidak kuketahui namanya itu dengan anak perempuannya yang akan menikah dalam kondisi berbadan dua.

Bukan itu.

Sebelum berangkat kemari aku melihat sepucuk undangan di atas meja ruang tamu. “Untuk Naya dan Partner”, begitu yang tertulis di sana.

Dari Hilmy.

Sedikit lagi, bunga di telapak tangan kiri tinggal diberi polesan terakhir. Setelah itu aku akan menenggelamkan diri dalam kubangan kisah sedih masa depanku sendiri. Tentang seseorang yang begitu kusayangi yang benar-benar akan pergi.

Ponselnya berdering di dalam tas di nakas sebelah kursi kami.

“Maaf, Mbak, siapa namanya?”

Aku menoleh dan menghentikan pekerjaan terakhirku.

“Bisa minta tolong angkatkan ponsel saya?”

Aku mengerti, dan langsung mendatangi sumber suara. Kuangkat telepon itu dan meletakkan di telinganya.

Rasa penasaran menjalariku seolah tumbuhan merambat yang akan terus bergerak dan sebentar lagi mencekikku. Aku tersekat sekaligus kehilangan napas saat mendengar kalimat demi kalimat obrolan kedua wanita di telepon itu. Tanganku gemetar, aku bahkan bisa mendengar detak jantungku sendiri. Obrolan mereka berlangsung datar disertai banyak helaan napas dari sang calon pengantin perempuan. Setelah pembicaraan berakhir, wanita itu menjadi sepucat kapas. Aku tidak berani becermin untuk melihat apakah wajahku sepucat wanita itu atau justru lebih parah lagi.

“Calon mertua,” jawabnya dengan berat, seolah aku bertanya.

“Aaah,” jawabku atas responnya. “K-kalau boleh tahu... yang tadi... Tante Hanna Asseg—”

“Mbak kenal sama...”

“S-saya teman anaknya. Aditya Hilmy Assegaf.” Seolah menantang kesakitan yang menjelma di dalam hatiku, aku menyebut namanya dengan lantang.

“A-ah. Dia... calon suami saya.”

Pyar. Hatiku yang rapuh pecah seketika. Aku tertawa. “Jadi ternyata undangan yang tadi pagi datang ke rumah itu undangan Mbak.” Aku kembali tertawa. Menertawakan nasibku sendiri.

“Saya teman SMA Hilmy.” Sahabat baik. Sampai lima bulan yang lalu. Aku memperkenalkan diri kembali.

Aku membereskan peralatanku, masih dengan tangan yang gemetar yang coba kututupi sebisa mungkin. “Kalau begitu, sampai jumpa hari Minggu, jawabku sambil berbenah dengan sedikit tergesa. “Semoga Malam Henna nanti malam sukses,” ucapku, dengan senyum artifisial yang terakhir sebelum bendungan di pelupuk mataku jebol.

“Saya pamit dulu.”

Aku lantas buru-buru pergi. Kubiarkan hiasan kelopak terakhir pada bunga di tangan kiri wanita itu tidak terselesaikan. Toh tidak akan ada yang menyadarinya. Seperti tidak akan ada yang menyadari bahwa wanita itu tengah berbadan dua. Seperti tidak akan ada yang menyadari bahwa ada luka kecil yang kembali menganga lebar, saat aku meninggalkan wanita itu pergi.

Tidak apa-apa, Naya. Yang kaubutuhkan hanya menangis sebentar. Lalu esok tersenyum lagi.



_______


“Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie.”




15.11.16

Hello Bobby, Mango Farming




Halo semuanya.

Rasanya lama sekali saya nggak posting di blog ini *sapuin debu-debu*. Jadi, tadi di jalan menuju pulang ke rumah, saya kepikiran untuk mulai aktif mengisi blog ini lagi. Yah, agar suatu hari nanti isinya bisa saya baca-baca lagi sambil menyeruput kopi.

Sebelumnya, terima kasih kepada Mas-Mas yang sudah menjual bibit mangga di sekolah tadi, yang membuat saya punya topik untuk dibahas dan dituliskan di blog ini. 

Jadi ceritanya, saat istirahat di sekolah, kami kedatangan tamu di ruang guru. Biasanya jenis tamu ini datang untuk menawarkan berbagai macam produk, mulai dari produk rumah tangga seperti panci atau wajan anti lengket (disertai demo memasaknya), alat kesehatan, atau bahkan buku. Biasanya, kalau sering kedatangan penawaran gitu saya nggak terlalu antusias. Karena apa? Kalau menawarkan panci saya bukan termasuk target marketing yang akan tertarik dengan jenis barang itu. Kalau menawarkan buku, ehm, maaf tapi biasanya nggak sesuai dengan genre bacaan saya atau saya sudah punya bukunya. Saat Mas-Mas itu datang mulanya saya juga skeptis sih, dalam hati, 'Ah, paling jual panci juga sama seperti yang kemarin-kemarin.' Namun ternyata, si Mas ini menawarkan bibit buah-buahan!

Nggak hanya saya yang tertarik, penghuni ruang guru lainnya ternyata ikutan penasaran sama bibit yang sedang ditawarkan. Apalagi pas ditanya di mana barangnya, ternyata sudah dibawa. Jadilah ruang guru kami yang nggak seberapa itu kedatangan tamu berupa bibit-bibit mangga, anggur, dan entah apa lagi tadi yang mereka bawa. Saya sebenarnya sudah kepingin punya bibit mangga sejak lama, tapi nggak pernah kesampaian untuk membelinya; entah karena nggak sempat beli, atau pas beli di tempat yang jual tanaman, nggak ada. 

Masnya memberikan penjelasan seputar teknologi apa gitu tentang buah yang berbuah sepanjang tahun dengan persilangan tiga jenis tanaman yang berbeda. Misalnya si anggur merah campur anggur hitam (satu lagi saya lupa), ditanam di liang yang sama, maka buahnya akan tumbuh terus tanpa menunggu musim, dan bisa menghasilkan tiga jenis anggur yang sama. Begitu pula dengan si mangga. Bisa juga menghasilkan mangga tumbuh terus tanpa terhenti musim asal ketiga bibitnya ditanam dalam lobang yang sama, lalu batangnya diikat supaya kambiumnya melekat. Well, sebagai bukan guru Biologi, saya sih manggut-manggut saja. Apalagi si Mas-Mas menjelaskan dengan cukup meyakinkan karena menggunakan istilah yang saya tahu (hanya sekadar tahu sih) seperti fenotip-genotip, hahaha.

Alhasil saya beli lho *yeay*. Harganya satu bibit Rp. 40.000,- ditawarkan juga beli tiga sekaligus dengan harga hanya Rp. 100.000,- saja, tapi karena sedang bokek (jujur banget yaaa), akhirnya cuma beli satu. Lagi pula, mau lihat dulu apakah saya berbakat untuk menanam mangga atau tidak (mengingat beberapa tanaman hias saya biarkan mati karena lupa disiram).

Nah, ada beberapa tips dari si Mas bagaimana caranya supaya bisa menanam dengan baik (mengingat saya dan teman saya yang beli bukan termasuk hobi bercocok tanam): Pertama, kalau mau menanam bibit cangkokan, sambungan cangkoknya nggak boleh ditimbun sama tanah. Kedua, sebulan sekali tanamannya dikasih MSG, supaya bisa merangsang pertumbuhannya. Ketiga, kalau beli bibit dengan polybag, polybag-nya jangan dilepas, karena kalau tidak tahu selanya, bisa-bisa membuat akarnya rusak dan membuat si tumbuhan mati. 

Ah ya dan katanya, mangga saya ini akan berbuah dalam waktu tujuh bulan. Hmmm, let's see apakah saya bisa memanen mangga pertama saya atau justru si mangga gagal tumbuh alias mati, hahaha. Semoga kemungkinan terakhir tidak terjadi, mengingat saya termasuk orang yang tidak telaten dalam hal tanam-menanam. Seperti halnya juga saya tidak telaten untuk rutin melakukan sesuatu (seperti mengisi blog ini), atau gagal melakukan resolusi "One Month One Plant" seperti yang pernah saya tuliskan di sini *melipir pergi*.


Dan karena saya suka memberi nama pada tanaman-tamanan saya, akhir kata saya akan memperkenalkan si bibit mangga harum-manis ini. "Say 'Hi' to Bobby."






Source pict, edited by me

21.8.16

Kopi Anti Mimpi




“Jadi, siapa yang kaubunuh kemarin malam?” ucap lelaki itu, sambil meletakkan secangkir kopi hitam ke hadapanku.

“Orang kedua,” jawabku sembari memamerkan gigi putihku yang berderet rapi. “Hmmm,” aku menghidu aroma kopi yang memanjakan indera penciumanku. “Kopi Aceh?” tebakku asal.

“Toraja,” ralatnya. "Coba rasakan lagi aromanya. Ini tidak sepekat kopi Aceh. Kopi Toraja wanginya lebih membumi. Seperti tanah yang baru saja tersiram hujan."

"Aaah. Oke," jawabku, dengan decak kagum yang tampak dari rona wajahku. Padahal, bukan kali pertama ini aku terpesona dengan caranya mendeskripsikan kopi. 

Lelaki itu duduk di kursi kosong di hadapanku, membiarkanku sejenak terhipnotis dengan minuman yang tengah kureguk, tanpa ada interupsi. Benar juga, setelah diminum baru terasa perbedaan antara keduanya. Kopi Toraja terasa lebih asam, sementara kopi Aceh memiliki rasa yang lebih pahit.

"Ya, asamnya terasa menyenangkan. Andai saja getirnya kehidupan bisa dinikmati seperti ini," kataku. "Astaga, sejak kapan aku jadi mirip seperti kamu begini."

Dia tertawa.

"Kamu harus merasakan kopi Kintamani. Supaya kautahu bahwa kopi tidak selamanya pahit dan getir. Ada perpaduan jeruk dan kopi arabika yang membuat hidup tidak hanya tentang hitam pekat dan pahit getir semata."

"Ya Ben. Kapan-kapan," elakku. Ben tahu benar kalau aku tidak akan mau meminum kopi jenis itu meskipun aku tidak akan pernah menceritakan alasannya padanya.

Pikiranku jadi mengelana saat di mana pertama kali aku bertemu dengan Ben. Sebelum kejadian malam itu, aku bukanlah pencinta atau penikmat kopi. Tapi perjalanan takdir tidak ada yang bisa menebaknya. Bahkan tersasar di sebuah kedai kopi 24 jam ini pun berkat pintalan takdir yang aku tidak tahu bagaimana kerjanya dan apa maksudnya.

“Siapa tahu di mimpimu setelah ini, kau berhasil membunuh musuhmu dengan kopi,” ujarnya ringan.

Otomatis tawaku muncul lagi, disusul tawa darinya.

“Jadi, dengan apa kaubunuh orang kedua itu?”

“Kau tidak percaya, dengan panah beracun!” jawabku dengan bangga. "Aku merasa keren sekali karena bisa memanah. Tepat sasaran. Di jantungnya. Shoot!"

Aku kembali menyesapkan kopi dengan perlahan, mencoba menikmatinya. Benar-benar menikmati, tidak seperti apa yang kulakukan dua minggu yang lalu, di tempat yang sama, lebih larut malam dari sekarang.

***

Aku datang kemari seperti seseorang yang tengah patah hati, setelah dengan impulsif mengendarai mobilku tengah malam. Seperti orang gila, aku memang tidak bisa membedakan selaput tipis antara waras dan gila, dunia nyata dan mimpi. Satu-satunya yang ada dalam benakku adalah aku harus melarikan diri dari kekejaman mimpi dan trauma yang pernah melingkupi hidupku bertahun-tahun lalu. Tujuanku sebenarnya adalah klub malam yang tidak jauh dari sini. Namun aku menemukan tempat ini, menarikku bagaikan magnet beda kutub yang didekatkan.

Bean and Ben’s Coffee.

“Kopi anti mimpi!” pekikku.

Aku melihat seseorang terkejut dengan kehadiranku. Ada yang salah? Apa aku sudah mirip orang gila? Seorang wanita yang pergi ke tempat ini dengan baju tidur bermotif Hello Kitty dan rambut kusut, barangkali tak perlu kusebutkan juga mata sembap akibat menumpahkan air mata selama satu jam seperti orang kesetanan. Beruntung aku tidak memilih klub malam sebagai persinggahan, karena bisa dipastikan aku akan diusir satpam.

Lelaki itu bergeming sesaat, lalu mempersilakanku duduk di tempat yang agak sepi. Tapi memang tempat ini lumayan sepi di hari kerja dan di jam yang tidak wajar, pukul dua pagi. Hanya ada beberapa orang yang tengah menikmati seduhan kopi dan makanan yang tidak pas untuk disebut hidangan makan malam. Tak lama orang itu kembali datang dengan secangkir kopi hitam pekat, langsung kusambar dan kureguk dalam hitungan menit.

“Satu lagi!”

Pelayan itu—beberapa hari kemudian aku tahu kalau ternyata dialah pemilik tempat ini—datang kembali dengan cangkir kedua.

“Satu lagi!”

Aku seperti kesetanan, kopi itu kuhabiskan dalam waktu singkat. Untungnya pelayan itu cukup cerdas untuk tidak memenuhi permintaan kopi ketigaku. Aku lelah untuk berkonfrontasi, dan yang kulakukan hanyalah menangis lagi. Aku memang seperti orang gila. Namun orang gila satu ini cukup memiliki sedikit kewarasan—barangkali ini adalah upayaku untuk menjaga kewarasan itu sendiri—dengan menceritakan ketakutan yang bersemayam dalam dadaku padanya, orang asing yang tak sengaja kutemui.

“Aku baru saja dilamar.” Aku masih ingat kalimat pembuka obrolan itu. Tapi aku takut, sesuatu dari masa lalu merayap mendatangi kehidupanku lagi, merenggut segala kesadaran yang kupunya, menghantui lebih hitam dan dekat ketimbang bayanganku sendiri. Bahkan, trauma itu menerkamku hingga ke batas mimpi.

“Aku hanya ingin kopi anti mimpi… atau apa pun yang kaupunya yang bisa membuatku terjaga sampai pagi… aku tidak ingin tidur…” Suaraku seperti orang putus asa.

“Yang kau butuhkan hanyalah teman mengobrol, dan secangkir kopi,” jawabnya. “Kau sudah mendapatkan keduanya.”

Keesokan harinya, aku kembali ke tempat yang sama dengan keadaan yang lebih beradab. Begitu pula dengan hari-hari sesudahnya, aku dengan rutin melakukan hal yang sama. Benar kata Ben, aku hanya membutuhkan teman mengobrol. Dalam hal ini, Ben-lah yang paling aman sebagai tempat untuk menampung sedikit beban yang tak perlu orang terdekatku ketahui.

Kami mengobrolkan soal kopi, dia juga bertanya beberapa hal tentangku, seperti apa pekerjaanku. Barangkali dia penasaran bagaimana aku bisa berkeliaran tengah malam berjuang untuk tidak tidur—atau lebih tepatnya, berjuang untuk melelahkan diri hingga tidak membiarkan tidurku disergap oleh mimpi.

“Asisten akuntan,” jawabku, “di perusahaan orangtua. Setidaknya aku bisa mengatur jam kantorku sendiri. Selama beban pekerjaanku selesai tepat waktu, tidak ada yang mempermasalakahkan aku datang ke kantor jam berapa.”

Dan terkadang, pembicaraan berjalan lebih serius. Misalnya, tentang mimpi yang menghantui.

“Kau harus mencoba untuk mengendalikan mimpimu sendiri,” ucapnya, di malam keempat.

Darinya aku mendapatkan penjelasan tentang mengendalikan mimpi. Aku harus menghadapi dan memiliki kendali atas mimpi-mimpi buruk yang sama yang selalu menghantuiku. Aku harus melawan dan berani untuk melakukan itu. Menghindar dari kepahitan hidup tidak akan mengubah apa pun, selain menjadi korosi pada diri.

Ben memberikan nomor telepon seseorang yang mungkin bisa membantuku untuk itu. Aku harus bernapas lega, karena mengetahui bahwa aku tidak sendiri. Ada orang lain yang mengalami gangguan psikologis semacam ini. Tapi, aku juga penasaran. Aku penasaran apakah Ben pernah mengalami hal yang sama dengan yang tengah kuhadapi sekarang. 

“Menurutmu mengapa kedai kopi 24 jam ini tercipta?” tanyanya. “Sejak bertahun-tahun yang lalu, aku merasakan hal yang sama denganmu.”

“Serius?!”

Dia tersenyum hambar dan menatapku lekat. “Bahkan terkadang, sampai saat ini.”

***

“Jadi musuh yang harus kaubunuh sisa satu orang lagi?”

“Ya,” jawabku getir, “dia yang paling menakutkanku.”

“Kalau begitu, selesaikan,” ucapnya.

“Aku pun berharap begitu,” jawabku. “Jadi, untuk malam ini, aku tidak minum kopi dulu.” Aku melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Baru setengah sepuluh, waktu yang tidak wajar untuk mengunjungi Ben karena biasanya larut malam aku berada di tempat ini. 

Good luck.”

“Kamu juga," ucapku dengan tersenyum. "Hadiahi aku secangkir kopi Kintamani kalau malam ini aku berhasil mengalahkan ketakutanku sendiri."

Ben tersenyum senang. Ia tahu betul kalau selama ini aku tidak pernah mau diberi kopi Kintamani. Aku pun mengelak saat ia bertanya mengapa. Aku hanya mengatakan bahwa, ada hubungannya dengan trauma dan ketakutanku yang muncul akhir-akhir ini.

Aku pamit pulang.

***

Yang kuinginkan sederhana saja, bisa mengendalikan mimpi, juga mengendalikan diriku sendiri dari trauma yang menghantuiku enam tahun yang lalu. Kejadiannya saat aku sedang berlibur di Bali. Aku pernah disekap, mataku ditutup, mulutku dibekap. Di sebuah tempat bekas gudang sembako, keperawananku direnggut oleh tiga pemuda mabuk yang tidak pernah diketahui siapa. Orangtuaku menutup rapat aib ini, tak ada penuntasan secara hukum yang membuat pelaku biadab itu diadili secara pantas. Kehormatanku yang masih tersisa harus dijaga. 

Tapi lamaran Andrew kembali membuatku teringat akan aib itu. Trauma yang berhasil kulalui dan kututupi begitu rapat menguak kembali bersamaan dengan lamaran itu. Bagaimana jika Andrew menolak mempersuntingku jika tahu aku mempunyai masa lalu begitu kelam seperti ini? Bagaimana jika aku tidak mampu memenuhi kebutuhannya hanya karena aku tidak sanggup menghapus segala kenangan buruk yang menimpaku dulu? Dan segala macam 'bagaimana jika' lainnya yang merusak kehidupanku bahkan sampai menghantuiku di dalam mimpi.

Kali ini, aku kembali hadir di tempat ini, tempat di mana kejadian itu berlangsung. Dua dari tiga pelaku sudah kubunuh pada dua mimpi sebelumnya. Sisa satu lagi… aku harus mengakhiri ketakutanku sendiri malam ini.

Peluh melumuri wajahku, sementara tanganku gemetar membawa revolver dengan peluru utuh di dalamnya. Hanya butuh sekali tembakan.

Seseorang datang dari balik pintu, tanganku kueratkan semakin rapat pada senjata yang siap untuk kutembakkan. Dadaku bergemuruh kencang, bahkan dalam mimpi, kutahu aku tengah berjuang sekuat tenaga melawan ketakutan. Orang itu hanyalah perlambang rasa takut yang memenuhi rongga dada. Aku harus menyelesaikannya sekarang juga.

Orang itu semakin mendekat, dalam hati aku menghitung mundur saat-saat di mana senjata ini akan kugunakan.

Tiga… dua…

“Ben?!” pekikku. Aku terkejut, saking terkejutnya, senjataku jatuh ke tanah. Bagaimana bisa aku memimpikan Ben di saat aku tengah berupaya mengendalikan mimpiku untuk membunuh orang terakhir yang memberiku luka psikis ini?

Dan sosok Ben tampil di sana, mendekat, dengan celemek seragam kafenya. Ia membawa secangkir kopi Kintamani, melengkungkan senyumnya yang biasa.





________





















Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com.